Selasa, 04 Februari 2014

tugas power point

hai.....
 Perkenalkan nama saya Khadijah
Kali ini saya ingin berbagi contoh tugas power poin dari saya..
Tugas ini mengenai tentang artis idola.
Artis idola saya yaitu Agnes Monica.
Silahkan di Download teman  .... :)
Terima Kasih :)

Sabtu, 01 Februari 2014

Tugas Power Point * My Idola

Haii.. saya Khadijah ingin berbagi contoh Power Point mengenai Artis idola
Agnes Monica adalah salah satunya. lebih jelas dan detilnya silahkan klik disini

Terima kasih atas kunjungan nya ya.. :)

Jumat, 24 Januari 2014

My Idol *Agnes Monica*

Hai semua nya...
aku ingin berbagi hasil kerja ku di power point.
Tugas ku ini berisi tentang artis idola ku
Agnes Monica

Nama asli : Agnes Monica Muljoto
Tanggal lahir : 01 Juli 1986
Lahir di : Jakarta, Indonesia
Zodiac : Cancer
Terkenal sejak merilis debut album anak-anak "Si Meong" (1992) 
Jika kalian mau melihat silahkan klik disini
terima kasih atas kunjungannya ya.... :)

Jumat, 17 Januari 2014

Derai Air Mata


Derai Air Mata


Dahulu aku memang seorang anak yang begitu manja dan tak pernah tau akan perasaan yang dirasa oleh seorang ibu. Ibu yang tak kenal lelah mencari rejeki demi terlampauinya semua kebutuhanku, dan tak pernah peduli akan kesehatannya sendiri. Rasa sakit dan perih tak pernah ia bagikan padaku, semua itu dirasakannya tanpa beban yang ia perlihatkan.
Luka yang lunak dan menyebar pada bagian tangan kirinya tak pernah ia cemaskan dalam hal kegiatan sehari-hari. Usahanya dalam waktu yang lama hanya dirasakan dalam waktu sekejap. Ya, waktu sekejab itu bermulai dari awalnya memasuki bulan Ramadhan.
Awal bulan Ramadhan, aku dan ibuku pergi ke rumah kakak untuk menyembuhkan luka basah pada tangan ibuku. Pada hari pertama puasa hingga hari ketiga, ibuku selalu makan dengan lahap. Hingga tiba kari keempat pada bulan puasa. Dihari itulah ibuku mulai tak mau makan. Entah mengapa ibuku mulai berubah dengan kondisi semakin melemah. Oleh karena itulah, ibuku harus berpasang infuse. Infuse yang berpasang ditangan ibuku, menjadi keluhannya setiap kegiatan. Infuse itu menempel erat pada tangan ibuku selama tiga hari.
Memasuki hari keempat yaitu, jam dua malam ibuku menjerit kesakitan. Rasa sakit yang ia keluhkan tak seperti penyakit yang biasanya. Dengan jeritan sakitnya, ia terus menyentuh bagian dadanya. Detak jantungnya tidak terkontrol dengan normal. Ketika tanganku menyentuh bagian dada belakang, terasa ada detak jantung yang menembus hingga belakang. “Ya tuhan, apa maksud dari kejadian ini. Apakah semudah ini kau menarik kehidupan ibu dari hadapanku. Aku tak punya Ayah dan keluarga lainnya. Tanpa ibu, hidupku akan hampa dan tak tau bagaimana. Ku mohon, jauhkan sakit ibu saat ini tuhan.” Kata batinku yang tak mampu menahan tetes air mata. Kami pun segera membawa ibu untuk ditangani di Rumah Sakit.
Di sepanjang jalan, jeritan sakit ibu tak ada hentinya. Begitupun dengan aku, hanya doa dan tangisan yang dapat ku aliri bersama kedua kakak ku. Dalam keadaan yang kritis, ibuku selalu meminta hal yang aneh. Tangisanku terus mengalir disetiap menatap mata indah ibuku yang mulai  terpejam.
Tiba di Rumah Sakit, aku tak tahan tangis. Tak pernah sebelumnya aku melihat ibuku terbaring lemah di Rumah Sakit. Ibuku yang selalu kuat, ceria, tak pernah sakit hingga separah ini. Tangisan ku semakin buas ketika terdengar jeritan sakit dari mulut ibu.
Alhamdulillah setelah ditangani oleh seorang dokter, ibu mulai terlihat tenang. Kami menuju ruang rawat, ibuku terlihat nyaman ketika itu.
Saat diruang rawat, ibuku mulai meminta hal yang aneh lagi. Hingga aku dan kakak ku terbawa emosi dan memarahi ibuku. Satu malam tidak ada tidur, aku hanya ingin menatap ibuku dengan penuh penyesalan karena memarahi ibuku.  Mata indah ibuku tidak terbuka lagi, ia hanya terpejam dengan suara jeritan sakit dari mulutnya. Ia sudah tak mampu menelan obat, iya juga tak mampu lagi membuka mulutnya. Hanya penyesalan yang aku rasakan. Rasa menyesal  jika mengingat sifat ku terdahulu. Sifat ku yang egois, yang tak pernah peduli akan semua yang dirasakan ibuku. Makan dan minum pun aku tak nafsu. Menatap ibuku lah yang ku lakukan selama itu.
Matahari pun memancar terang, tanda hari sudah pagi. Suara jeritan ibuku semakin kencang hingga terdengar keluar ruangan. “Ya Allah, apa yang terjadi pada ibuku. Sungguh aku tak sanggup Tuhan. Aku tak kuat melihat ibuku terbaring lemah Tuhan.” Jeritan tangis dengan ucapan ku menatap ibuku.
Pagi itu, semua perawat menangani ibuku. Terpasang bermacam alat pada tubuh ibuku. Ditemani keponakan ku, tersandar aku dalam tangis ku yang semakin kencang. Tak tahan aku melihat suasana haru saat itu. Doa dan doa aku lantunkan dalam kesedihan.
“Ibu, tangis ku kini tak mendapat usapan lembut tangan mu. Di mana ucap sayang mu padaku jika engkau berdiam diri. Bertindaklah ibu…. Aku tak kuat melihat kau terbaring lemah saat ini.” Kritik hati mengeluhkan keadaan saat itu.
Disaat suasana haru, beberapa hal lain yang harus aku urus. Mengingat nama ibu pun aku tak tahan tangis. Sungguh ini adalah kesedihanku yang tak terbayang sakitnya. Ketika aku kembali ke ruangan, ternyata ibuku sudah berada di ruang ICU. Ya, ruang ICU adalah ruang penentuan terakhir. Aku terkagetkan dan hanya bisa menangis ketika memasuki ruangan itu dan melihat ibu terbaring dengan bantuan alat-alat yang tak pernah aku lihat. Banyak keluarga, kerabat, dan teman-teman ku untuk menjenguk keadaan ibuku. Guru aku pun turut memberikan semangat padaku.  Aku sadar bahwa masih banyak orang yang menyayangiku. Dan berharap masa indah kembali padaku.
Tiga hari berturut-turut, ibuku masih belum membukakan matanya. Hanya detak jantungnya yang beraktivitas. Selama itu pula aku berpuasa tanpa sahur dan buka. Menangis adalah kegiatan rutinku selama itu.
Tepat jam 2 siang memasuki hari keempat ibuku membukakan matanya dan hanya satu kata yang ia keluarkan yaitu Dijah. Dengan kaget ketika perawat memanggilku untuk menemui ibuku yang sudar sadar. Aku menangis bahagia dengan mukjizat yang diberikan  tuhan saat itu. Ku peluk erat ibuku, ku usap air matanya yang berlinang. Dan ku ucap janji  “aku sayang engkau ibu, aku akan menjaga mu dengan baik. Dan aku berjanji tidak akan pernah membuat ibu sedih.” Tak dapat berucap jelas, ibuku menganggukkan kepalanya. “Terima kasih tuhan, engkau telah memberikan aku satu kesempatan untuk memberi kebahagiaan pada ibuku.” Ucapku bahagia dalam hati.
Menunggu kesembuhan ibuku yang belum stabil. Ruangan yang begitu menyeramkan berpindah ke ruang rawat untuk pemulihan. Dua belas hari di rumah sakit adalah hal yang menderitakan. Berharap semoga kejadian saat itu tak terulang kembali dan berulang menjadi kenangan manis .
Cerita ini adalah sebuah gambaran hidup ku secara fakta. Menjalani hidup selalu beriringan dengan beberapa masalah. Tak selamanya hidup akan tersenyum, semua aturan dunia dan akhirat ada pada Tuhan. Semua itu diberikan tuhan agar semua makhluknya sadar akan kepentingan pribadi dan orang lain, dan kepentingan dunia dan akhirat.
Selesai

By :
Free Blog Templates