Jumat, 17 Januari 2014
Derai Air Mata
Dahulu aku memang seorang anak yang
begitu manja dan tak pernah tau akan perasaan yang dirasa oleh seorang ibu. Ibu
yang tak kenal lelah mencari rejeki demi terlampauinya semua kebutuhanku, dan
tak pernah peduli akan kesehatannya sendiri. Rasa sakit dan perih tak pernah ia
bagikan padaku, semua itu dirasakannya tanpa beban yang ia perlihatkan.
Luka yang lunak dan menyebar pada
bagian tangan kirinya tak pernah ia cemaskan dalam hal kegiatan sehari-hari.
Usahanya dalam waktu yang lama hanya dirasakan dalam waktu sekejap. Ya, waktu
sekejab itu bermulai dari awalnya memasuki bulan Ramadhan.
Awal bulan Ramadhan, aku dan ibuku
pergi ke rumah kakak untuk menyembuhkan luka basah pada tangan ibuku. Pada hari
pertama puasa hingga hari ketiga, ibuku selalu makan dengan lahap. Hingga tiba
kari keempat pada bulan puasa. Dihari itulah ibuku mulai tak mau makan. Entah
mengapa ibuku mulai berubah dengan kondisi semakin melemah. Oleh karena itulah,
ibuku harus berpasang infuse. Infuse yang berpasang ditangan ibuku, menjadi
keluhannya setiap kegiatan. Infuse itu menempel erat pada tangan ibuku selama
tiga hari.
Memasuki hari keempat yaitu, jam dua
malam ibuku menjerit kesakitan. Rasa sakit yang ia keluhkan tak seperti
penyakit yang biasanya. Dengan jeritan sakitnya, ia terus menyentuh bagian
dadanya. Detak jantungnya tidak terkontrol dengan normal. Ketika tanganku
menyentuh bagian dada belakang, terasa ada detak jantung yang menembus hingga
belakang. “Ya tuhan, apa maksud dari kejadian ini. Apakah semudah ini kau menarik
kehidupan ibu dari hadapanku. Aku tak punya Ayah dan keluarga lainnya. Tanpa
ibu, hidupku akan hampa dan tak tau bagaimana. Ku mohon, jauhkan sakit ibu saat
ini tuhan.” Kata batinku yang tak mampu menahan tetes air mata. Kami pun segera
membawa ibu untuk ditangani di Rumah Sakit.
Di sepanjang jalan, jeritan sakit ibu
tak ada hentinya. Begitupun dengan aku, hanya doa dan tangisan yang dapat ku
aliri bersama kedua kakak ku. Dalam keadaan yang kritis, ibuku selalu meminta
hal yang aneh. Tangisanku terus mengalir disetiap menatap mata indah ibuku yang
mulai terpejam.
Tiba di Rumah Sakit, aku tak tahan
tangis. Tak pernah sebelumnya aku melihat ibuku terbaring lemah di Rumah Sakit.
Ibuku yang selalu kuat, ceria, tak pernah sakit hingga separah ini. Tangisan ku
semakin buas ketika terdengar jeritan sakit dari mulut ibu.
Alhamdulillah setelah ditangani oleh
seorang dokter, ibu mulai terlihat tenang. Kami menuju ruang rawat, ibuku
terlihat nyaman ketika itu.
Saat diruang rawat, ibuku mulai
meminta hal yang aneh lagi. Hingga aku dan kakak ku terbawa emosi dan memarahi
ibuku. Satu malam tidak ada tidur, aku hanya ingin menatap ibuku dengan penuh
penyesalan karena memarahi ibuku. Mata
indah ibuku tidak terbuka lagi, ia hanya terpejam dengan suara jeritan sakit
dari mulutnya. Ia sudah tak mampu menelan obat, iya juga tak mampu lagi membuka
mulutnya. Hanya penyesalan yang aku rasakan. Rasa menyesal jika mengingat sifat ku terdahulu. Sifat ku
yang egois, yang tak pernah peduli akan semua yang dirasakan ibuku. Makan dan
minum pun aku tak nafsu. Menatap ibuku lah yang ku lakukan selama itu.
Matahari pun memancar terang, tanda
hari sudah pagi. Suara jeritan ibuku semakin kencang hingga terdengar keluar
ruangan. “Ya Allah, apa yang terjadi pada ibuku. Sungguh aku tak sanggup Tuhan.
Aku tak kuat melihat ibuku terbaring lemah Tuhan.” Jeritan tangis dengan ucapan
ku menatap ibuku.
Pagi itu, semua perawat menangani ibuku.
Terpasang bermacam alat pada tubuh ibuku. Ditemani keponakan ku, tersandar aku
dalam tangis ku yang semakin kencang. Tak tahan aku melihat suasana haru saat
itu. Doa dan doa aku lantunkan dalam kesedihan.
“Ibu, tangis ku kini tak mendapat
usapan lembut tangan mu. Di mana ucap sayang mu padaku jika engkau berdiam
diri. Bertindaklah ibu…. Aku tak kuat melihat kau terbaring lemah saat ini.”
Kritik hati mengeluhkan keadaan saat itu.
Disaat suasana haru, beberapa hal lain
yang harus aku urus. Mengingat nama ibu pun aku tak tahan tangis. Sungguh ini
adalah kesedihanku yang tak terbayang sakitnya. Ketika aku kembali ke ruangan,
ternyata ibuku sudah berada di ruang ICU. Ya, ruang ICU adalah ruang penentuan
terakhir. Aku terkagetkan dan hanya bisa menangis ketika memasuki ruangan itu
dan melihat ibu terbaring dengan bantuan alat-alat yang tak pernah aku lihat.
Banyak keluarga, kerabat, dan teman-teman ku untuk menjenguk keadaan ibuku.
Guru aku pun turut memberikan semangat padaku.
Aku sadar bahwa masih banyak orang yang menyayangiku. Dan berharap masa
indah kembali padaku.
Tiga hari berturut-turut, ibuku masih
belum membukakan matanya. Hanya detak jantungnya yang beraktivitas. Selama itu
pula aku berpuasa tanpa sahur dan buka. Menangis adalah kegiatan rutinku selama
itu.
Tepat jam 2 siang memasuki hari
keempat ibuku membukakan matanya dan hanya satu kata yang ia keluarkan yaitu
Dijah. Dengan kaget ketika perawat memanggilku untuk menemui ibuku yang sudar
sadar. Aku menangis bahagia dengan mukjizat yang diberikan tuhan saat itu. Ku peluk erat ibuku, ku usap
air matanya yang berlinang. Dan ku ucap janji
“aku sayang engkau ibu, aku akan menjaga mu dengan baik. Dan aku
berjanji tidak akan pernah membuat ibu sedih.” Tak dapat berucap jelas, ibuku
menganggukkan kepalanya. “Terima kasih tuhan, engkau telah memberikan aku satu
kesempatan untuk memberi kebahagiaan pada ibuku.” Ucapku bahagia dalam hati.
Menunggu kesembuhan ibuku yang belum
stabil. Ruangan yang begitu menyeramkan berpindah ke ruang rawat untuk pemulihan.
Dua belas hari di rumah sakit adalah hal yang menderitakan. Berharap semoga
kejadian saat itu tak terulang kembali dan berulang menjadi kenangan manis .
Cerita ini adalah sebuah gambaran
hidup ku secara fakta. Menjalani hidup selalu beriringan dengan beberapa
masalah. Tak selamanya hidup akan tersenyum, semua aturan dunia dan akhirat ada
pada Tuhan. Semua itu diberikan tuhan agar semua makhluknya sadar akan
kepentingan pribadi dan orang lain, dan kepentingan dunia dan akhirat.
Selesai
0 Comments:
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
